Minggu, 03 Mei 2015

Masih Pemanasan...

Menulis itu bukan perkara mudah. Bahkan hanya untuk sekedar bercerita tentang isi hati sebagai pelampiasan karena tak bisa mengatakannya pada orang lain atau seseorang yang dituju (halahhhhhh, ngomong aja malu). Apa yang sering ku tulis selama ini biasanya hanya sebuah tulisan dalam bentuk diary. Kebiasaan menulis diary lebih banyak menuntunku membuat kumpulan kalimat sebentuk puisi yang tidak jelas. Ya, tapi itulah cara sederhana ketika seorang yang punya tingkat kepercayaan diri rendah sepertiku sulit berinteraksi dengan sekitar/lingkungannya. 

Alternatif lainnya adalah bercerita sepihak pada kucing-kucingku yang diakhiri sebuah dengkuran. Dibanding dengkuran manusia
yang terdengar lebih mengganggu, dengkuran mereka bagiku justru suara paling menenangkan di dunia. Bahkan aku hampir tak bisa tidur tanpa memeluk salah satu dari mereka. Addicted yang cukup membahayakan ketika nanti pasangan ku tak terima dengan kenyataan itu. Ah, tapi siapa pula yang mau mencari pasangan yang hobinya mengeluh untuk urusan sepele seperti itu bagiku. 

(Stop! makin ngelantur kalau ini diteruskan :-D)

Menulis adalah pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi yang sedikit rumit bagiku. Kenapa? ketika sebuah ide tulisan melintas dalam pikiran, entah pekerjaan apapun yang sedang dilakukan maka tidak ada alasan untuk meneruskannya. Kalau tidak, ah sudahlah bisa ditebak kemana lenyapnya ide-ide menarik itu. Seorang teman menyarankan untuk menulis saja disebuah thread di forum yang ditulis dalam post terpisah supaya ada yang mengomentari tulisanku tapi dalam hati ku tanggapi aku belum sanggup mempublis tulisan-tulisan yang tidak ada artinya ini ke umum.
Belum lagi kebiasaan buruk ku yang sering terburu-buru membaca, sehingga gramatika dan ejaan-nya banyak yang belepotan bisa jadi menimbulkan banyak koreksi. Koreksi sederhana tapi bagian yang penting dalam sebuah tulisan. Aku menelan ludah sendiri, pada kenyataanya tulisan di blog ini pun ku share dilaman facebook ku. Men-tag nama teman yang ku mintai tolong mengajari ku menulis untuk menilainya dan akhirnya dibaca beberapa teman lain yang tentu saja melihat tulisan yang ku sebar ini. 

Ternyata aku bukan malu, lebih tepatnya aku takut ketika menghadapi sebuah kritikan/komentar dari yang membaca. Mungkin karena jiwa muda dengan segudang egosime nya aku masih merasa bahwa komentar itu lebih menjurus pada kesenangan orang mengkoreksi orang lain ketimbang mengkoreksi dirinya sendiri atau hanya dibuat lelucon untuk lucu-lucuan saja. Ahhhhh, pokoknya gada gunanya saja menurutku padahal aku pun begitu sebaliknya (kan??? :-D). Pada kenyataannya koreksi dan kritikan orang lain itulah yang membangunkanku untuk belajar serius dan lebih hati-hati lagi saat menulis. Tak ada keberhasilan yang tak diajarkan dari kegagalan, tak ada pelangi yang tampak tanpa hujan, dan tak ada kebahagiaan yang dilalui tanpa sebuah penderitaan (eeeaaaaaaaaaaa galau lagi :-P ).

"Ya, menulislah...tulislah apapun yang ada di benak mu saat ini. Tak usah pedulikan bagaimana caranya membuat mereka yang membaca suka/berdecak mengutarakan kagum pada tulisan mu ini. Bukan, karena bukan itu yang kau tuju dari keinginan mu untuk menulis. Memberi manfaat dan berbagi hal baik dalam hidupmu pada orang lain lah tujuan mu yang sebetulnya, bahkan meski hanya sebuah curahan hati pun harus ada pesan baik di dalamnya (kata ebo meong...hihihihi)".

Teringat sebuah kalimat entah itu pepatah atau bukan "Jika kau tak bisa bersedekah dengan hartamu, makan bersedahlah dengan ilmu. Jika tak bisa juga cukup dengan senyummu" bahkan sebuah senyuman bisa menjadi sesuatu yang bernilai bagi orang lain yang melihatnya. Memberi ketenangan dan kebahagiaan bagi mereka yang hatinya sedang dirundung kesusahan.

Itulah yang bisa kukatakan pada diriku saat ini. Aku masih jauh dari kata baik atau pun berhasil menulis yang benar, tapi aku sudah jauh lebih maju dari kata malas yang selama ini mengisi kepalaku. Mulai memberi target pada diri sendiri setiap hari berapa banyak tulisan yang harus ku buat, yang terpenting adalah perang dengan si rasa malas, malu dan takut ini. Karena aku harus belajar lebih keras agar aku bisa memberi lebih banyak dengan caraku yang satu ini.

Selamat berjuang dan mari berjuang bersama yang baru ingin belajar menulis juga :-)

2 komentar: