Senin, 04 Mei 2015

Harmony Angklung For The World

Pagi itu, 17 April 2015 nggak sengaja melihat salah satu kawan permeongan men-share sebuah postingan dari fan page Saung Aklung Udjo (SAU) di laman facebook ku. Isinya kurang lebih sebuah event yang mengajak kepada seluruh warga masyarakat untuk ikut serta dalam pemecahan rekor Muri dan Guinness World Records permainan angklung terbanyak. Event yang cukup fantastik tersebut akan dimainkan oleh sekitar 20.000 peserta di stadion Siliwangi Bandung jumat, 23 April 2015. Acara yang bertajuk Harmony Angklung For The World tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara peringatan Konferensi Asia Afrika ke 60 yang diselenggarakan di Bandung.

Awalnya aku nggak begitu antusias untuk mendaftar. Lalu iseng kucoba mendaftar melalui e-mail sesuai instruksi dipostingan. Dihari pertama pendaftaran dibuka tidak ada balasan e-mail untuk registrasi yang sudah ku kirim, begitupun keesokannya. Dua hari kemudian teh Ruby lewat akun facebooknya mengkomfirmasi pengumuman list peserta yang lolos pendaftaran. Aku dan kawanku Ria masuk 2500 list peserta yang mendaftar melalui e-mail dan harus melakukan registrasi ulang langsung ke SAU hari itu juga. Berangkatlah kami dan janjian bertemu di SAU jam 10 pagi itu untuk registrasi ulang dan mengambil kupon.


             

Hari pelaksanaan pun tiba. Ribuan orang berbaris di pintu masuk stadion Siliwangi pagi itu. Menurut pengumuman yang disebar sebelumnya acara akan dimulai jam 7 pagi. Aku sendiri sudah sejak subuh berangkat dari rumah untuk menghindari antrian padat dipintu masuk. Aku dan Ria janjian bertemu di stadion Siliwangi, mengantri diantara 20.000 lautan manusia yang hadir. Untungnya antrian peserta yang mendaftar melalui SAU dipisahkan dari antrian peserta khusus. SAU memang ditunjuk sebagi penyedia alat musik angklung untuk perhelatan besar tersebut.


            
      Photo credit : Facebook Saung Angklung Udjo 

Ada cerita yang menarik pada hari itu. Teh Ruby, salah satu kawan yang justru diawal mendapat konfirmasi e-mail tapi tidak masuk list peserta di facebook ikut datang dan ikut mengantri bersamaku dan ria di jajaran peserta. Teh Ruby nekat datang dan ikut mengantri karena saking inginnya menjadi bagian dalam event yang fantastik dan besar ini. Siapa yang nggak bangga kalau eventnya sekelas dunia begini coba. Beruntung sekali perhitungan yang semula direncanakan menggunakan sistem barcode tidak berjalan semestinya. Semua peserta yang masuk dihitung secara manual. Sistem perhitungan yang tidak sesuai untuk standart event sekelas dunia ini memang. Tapi ah sudahlah, toh angklung yang disediakan juga ada 25000 jadi bukan masalah besar kalau ada peserta seperti teh Ruby bisa dengan mudah menembus barikade panitia di pintu masuk. Pokoknya, EDUN pisanlah...hahahaha.

             
      Photo credit : Facebook Ruby Elvira

Sampai dilapangan kami mengambil tempat cukup depan yang menghadap set panggung utama. Sambil menanti perhitungan yang terus berjalan, para peserta yang sudah masuk disunguhi penampilan dari Group Band Bawaan Saung Udjo atau yang disingkat Bebenjo dari atas panggung utama. Tentu saja performance yang disuguhkan diiringi harmonisasi dari alat musik bambu yang dikemas apik. Sambil bernyanyi aku bahkan iseng dengan teh Ruby menghitung pesawat yang melintas di udara (euweuh gawe pisan nya...hahaha). Hingga tak terasa matahari pun mulai terik dan suasana semakin panas dilapangan. Tepat pukul 11 acara pun dimulai.

                       

Dipandu langsung oleh generasi kedua penerus dari bapak Udjo Ngalagena (seniman besar angklung  Indonesia, 5 Maret 1929 - 3 Mei 2001) yaitu bapak Daeng Udjo yang bertugas sebagai conductor, semua peserta berlatih lebih dahulu memainkan beberapa lagu. Diantaranya Manuk Dadali, Marilah Kemari, Halo Halo Bandung dan terakhir lagu yang dimainkan untuk memecahkan rekor, We Are The World. Sebetulnya tak terpikirkan bagimana bisa sekian puluh ribu manusia yang mungkin baru memegang angklung hari itu berkumpul bersama dan memainkan harmonisasi nada dari sebuah lagu? dan ternyata bisa.

Jadi, Setiap angklung yang dimiliki peserta sudah diberi nama menggunakan beberapa nama daerah seperti papua, jawa, bali, sumatra, kalimantan dll. Aku sendiri kebagian angklung dengan nama Bali. Jika diurut menurut notasi nada maka Bali ada pada notasi ke 4 atau nada Fa dalam urutan Do re mi. Conductor juga memiliki intruksi gerakan tangan untuk masing-masing angklung yang sudah dinamai. Misal, ketika conductor mengepalkan tangan maka angklung dengan nama sumatra harus dibunyikan sampai gerakan tangannya berganti memberi intruksi untuk nada yang lain dan begitu seterusnya. Alhasil tanpa perlu latihan yang signifikan dan sulit puluhan ribu orang memainkan harmonisasi dari nada-nada lagu sesuai intruksi conductor dengan mudah.

Tibalah pada acara puncak. Seisi stadion pun bergema memainkan harmonisasi nada yang indah dengan serius menatap pada layar-layar besar yang disediakan. Aku sendiri sampai sedikit merinding kala itu. Ada rasa haru dan bangga menyelimuti perasaan saat lagu We Are The World dimainkan. Tentu saja angklung yang selama ini dibangga-banggakan sebagai salah satu identitas bangsa Indonesia, bahkan hampir diakui negara tetangga dan sebelum-sebelumnya selalu dimainkan di luar negeri kini suaranya menggema dilangit Indonesia tepatnya di bumi parahyangan yang memang menjadi asal muasal alat musik angklung.


                


Dua rekor baru pun terpecahkan. Rekor Muri langsung dikukuhkan dalam bentuk piagam kepada walikota bandung Ridwan Kamil, event kali ini berhasil mengalahkan rekor 11.000 peserta angklung dijakarta sebelumnya. Sayangnya untuk pengukuhan Guness World Records tidak bisa diumumkan langsung hari itu karena satu hal dan lainnya. Tapi sorak sorai puluhan ribu orang yang memenuhi lapangan Siliwangi hari itu sudah teracatat dalam sejarah dunia. Mengukir ingatan setiap dari mereka yang ada disana termasuk aku sendiri pernah menjadi bagian dari sejarah bangsa yang besar ini. Menggemakan harmonisasi nada-nada indah keseluruh dunia sebagi pesan perdamaian dan simbol kebersamaan yang kuat.



"Angklung terbuat dari bambu. Bambu tumbuh dan besar tak pernah sendiri. Semua lahir dan berkembang dalam proses yang bertahapan, buku demi buku bambu. Tak hanya itu, bambu juga lahir untuk membantu melindungi dan berfungsi dalam rumpun yang selalu bersama. Di sinilah simbol solidaritas dan kebersamaan dilambangkan secara filosofis." (Bisnis Indonesia: Ria Indhryani)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar