Sabtu, 27 Juni 2015

Oscar....

Malam ini tepat dua minggu yang lalu dia pergi menyebrangi jembatan pelangi. Aku masih rindu setiap kali mengingatnya tapi baiklah kita tuntaskan kesedihan itu sekarang.

13 Mei 2012 aku mengadopsi kucing cantik dengan warna belang tiga/telon (calico) yang agak unik melalui seorang teman yang aku kenal pertama kali di sebuah group pecinta kucing di facebook. Jika biasanya calico rata-rata bercorak warna kuning, hitam dan putih kucing betina cantik ini berwarna abu-abu, putih dan kuning yang lagi-lagi terlihat lebih pucat seperti warna krayon. Namanya Oppu tapi kuganti menjadi Opput setibanya di rumah.


Opput aku adopsi saat sedang hamil besar. Selang dua hari kemudian Opput melahirkan dua anaknya. Satu diantaranya meninggal setelah lahir karena nggak disentuh sedikitpun oleh Opput. Entahlah kenapa, kalau diceritakan simbah secara fisik kucing yang meninggal tubuhnya lebih besar dan warnanya belang tiga. Waktu itu aku memang sedang di kampus. Dirumah hanya ada simbah yang dengan kemampuan terbatas menolong kucing adopsi pertama ku itu lahiran. Jadilah hanya tersisa satu. 


Oscar, nama itu terlontar begitu saja ketika aku pulang dan melihat untuk pertama kalinya bayi mungil yang masih belum membuka mata itu menyusu pada induknya. Aku jatuh hati pada pandangan pertama. Baru kali ini aku melihat bayi kucing yang benar-benar baru lahir didepan mata. Sebelum-sebelumnya aku memang sudah sering memelihara kucing yang diambil dari jalanan atau yang memang sering datang kerumah. Tapi selama ini aku selalu memelihara yang memang sudah besar. Jadinya Oscar membuatku benar-benar takjub saat itu.


Seminggu berlalu akhirnya Oscar membuka mata untuk pertama kalinya. Aku, akulah yang dilihatnya pertama saat itu. Saat menulis ini ingatanku kembali pada masa itu. Ahhh...lucu bangetttttttttttt kamu Oscar. Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulutku dengan perasaan gemas tak sabar menunggunya cepat besar supaya bisa diajak main.












Satu bulan berlalu Oscar sudah mulai berlarian ke seisi rumah. Ia tumbuh semakin lucu dan lincah dengan segudang tingkah yang membuat orang-orang seisi rumah tertawa. Hangat, rumah terasa lebih berbeda dengan kehadirannya. Tapi seperti ada yang kurang, entahlah apa itu. Lalu kemudian teman yang dulu mengenalkan aku dengan Opput bercerita sebaiknya Opput disteril. Lalu apa yang akan terjadi dengan oscar kalau induknya disteril? pikiranku saat itu. Karena sama sekali aku belum pernah berurusan dengan hal semacam ini sebelumnya. Kucing betina pasca steril membutuhkan penangan yang memang lebih khusus dibanding kucing jantan. Selama itu apa jadinya kalau Oscar Sendirian.

Akhirnya aku mengadopsi satu kucing yang ditemukan sedang dibully anak sekolah dekat kosannya temanku yang pertama mengenalkan aku dengan Opput. Choki, Si buruk rupa yang terlantar dan kelaparan. Itulah yang tampak dari photo yang diupload temanku itu dimedia sosial. Lagi-lagi aku jatuh hati, entahlah biarpun dia dekil dan kurus ada sesuatu yang menghubungkan aku dengannya ketika melihatnya. Lalu Choki pun menjadi penghuni baru sebagai saudara tiri Oscar dirumah ini. Dengan begitu aku bisa tenang, setidaknya Oscar nggak akan kesepian saat mommynya nanti dikaratina.

Mereka seperti saudara yang tidak bisa dipisahkan. Banyak hal yang mereka lakukan bersama-sama bahkan menyusu pada Opput. Biasanya tabiat kucing enggan menyusui anak yang bukan anaknya. Tapi opput dengan senang hati menyusui Choki dan Oscar. bahkan sesekali memandikan mereka dengan cara menjilatinya bergantian saat menyusui. Indah, menarik sekali melihat pemandangan menakjubkan seperti itu setiap hari di rumah.













Oscar memang sering sakit-sakitan sejak kecil. Tubuhnya seperi sulit berkembang. Untuk ukuran kucing jantan ia termasuk yang bertubuh kecil dan kurus meski makannya rakus. Diusia dua bulan dia menderita cacingan parah bahkan sampe muntah cacing dan selalu rutin tidak pernah lepas dari obat cacing sampai terakhir kalinya sebulan sebelum dia pergi.

Tiba pada usia sekitar satu tahun kurang dia terserang Panleu. Ah, penyakit apalagi itu. Gejalanya sederhana, lemas, nggak mau makan dan senang berada ditempat-tempat dingin seperti dekat kamar mandi. Aku langsung membawanya ke dokter. Seminggu lebih dokter memberinya obat dan harus dipisahkan dari kucing lain. Oscar termasuk hebat, dibawah usia satu tahun terserang panleu tanpa vaksin sebelumnya dan lolos sembuh meski sayangnya setelah sembuh kaki belakangnya menjadi agak sedikit aneh setiap kali berjalan. Ketahanan kaki belakangnya melemah. Kadang kalau loncat dari ketinggian ia akan jatuh. Ya, itu memang efek yang ditinggalkan dari virus tersebut jika yang terserang bisa sembuh dan melewatinya.

Tak lama setelah sakit, sekitar usia 1,5 aku mensterilnya bersamaan dengan kimcring, kucing yang diungsikan seorang teman kerumah karena dituduh membunuh burung seharga jutaan. Duhhh...melihat dia pingsang dengan mata setengah terbuka dan teler sedikit nggak tega memang. Tapi sebentar saja mbatinku, besok juga kamu sehat lagi. Setelah itu kamu mau kemana main sama siapa juga bebas bisiku dalam hati.



Pasca steril oscar justru bertumbuh besar. Berat badannya menjadi lebih berisi. Kebiasaan joroknya berkurang. Ia juga menjadi lebih kalem dan senang dirumah beramain-main dengan sodaranya yang lain. Bahagia rasanya melihat perbedaan yang baik dari keadaan sebelumnya. Tapi lagi-lagi ia terserang virus. Kali ini calici. Tandanya kurang lebih sama seperti panleu hanya kali ini diikuti gejalan sariawan yang cukup parah hingga mengeluarkan darah. Aku panik setengah mati dan cepat-cepat membawanya ke dokter. Karena sedikit terlambat mengenali gejalanya, Choki selang sehari menunjukan gejala yang sama dan akhirnya kedua harus ku karantina sampe obat yang diberikan dokter habis. Yang membuat sedih dari kejadian ini, setelahnya Choki sembuh tanpa efek apapun pada tubuhny sedangkan Oscar kaki belakangnya makin lemah walau masih bisa berlari. Tak apalah, yang penting kamu sehat yah jangan sakit lagi. Bisiku sekali lagi dalam hati sambil menciumnya kala itu.

Sejak kehadiran Kimcring, rumah menjdi lebih ramai. Dan entah sejak kapan mereka pun menjadi lebih sering bersama. Mungkin tepatnya pasca steril. Oscar dan Kimcring yang awalnya tidak akur sekarang seperti tidak bisa dipisahkan. Ketiganya sering berlari bermain bersama dihalaman, berjemur makan dan tidur bersama saling tumpang tindih menghangatkan satu sama lain.



















Hampir setahun lebih berlalu dan semua keadaan berjalan dengan aman. Kehawatiran tentang Oscar yang memang sepertinya terlahir dengen gen yang lemah seperti terlupakan. Bobotnya tidak pernah kurang dari 4 kg. Makannya rakus dan usilnya nggak ketulungan. Yang kadang bikin lucu sih penakutnya yang kebangetan. Oscar memang sering kena sasaran bully kucing liar yang sering mampir. Terkadang dia berani melawan tapi hanya sekedar mengerang menakuti. Walaupun akhirnya yang turun tangan mengejar dan menyerang betulan choki. Hahaha...lucu sih, beraninya gertak doank. Yang lebih kasian kalau sudah dia yang kena serang sampe poop atau pee kemana-mana sambil lari ketakutan ngos-ngosan. Kadang aku sendiri sampe geram dan selalu harus menyemprotkan air untuk menakut-nakuti lawannya. Tapi itulah Oscar. Dibalik semuanya, dia yang paling selalu mudah aku cari di rumah. Dia yang selalu siap aku unyel-unyel saat sedang badmood atau butuh hiburan. Oscar yang baik hati yang sering menggangguku saat menggunakan komputer lalu mendekati wajahku dan mengendus seperti hendak mencium. Yang selalu tidur dengan gaya strehcingnya yang bebas merdeka. Yang dengan tenang mendusel kepalaku ketika aku sujud atau naik kepangkuanku ketika aku berdoa selepas sholat.









Dan tiba untuk ketiga kalinya Oscar terserang penyakit yang sama, calici. Duh...lagi, dia harus dikarantina sampe obat yang diberikan dokter habis. Tapi yang berbeda kondisinya melemah lagi seperti dulu. Tubuhnya kembali kurus meski makannya masih rakus. Obat cacing dan vitamin pun sepertinya tak berguna. Gumamku ah mungkin masanya begini. Yang penting dia sehat mau makan nanti juga normal kembali. Tapi nafasnya sedikit dalam. Kembang kempis perutnya saat menarik nafas sedikit terlihat seperti sesak. Tapi tak lama semua kembali normal. Hampir satu bulan lebih kondisinya naik turun seperti itu. Tak ada perkiraan ia akan drop dan akhirnya pergi.





Hari itu pagi-pagi ia masih mau makan meski tidak habis. Siangnya menunggui piringnya lalu kutambahkan lagi makannya. Menjelang sore kulihat dia sedang duduk dihalaman dibawah pohon tapi ada yang aneh, kenapa mulutnya terbuka seperti kesulitan bernafas. Kudekati dan iyah...kondisinya tiba-tiba buruk. Kesulitan bernafas dan tak mau digendong. Seperti kesakitan sekujur tubuhnya jika disentuh. Ahhh...aku mulai panik. Aku bergegas meminjam motor papah untuk membawanya ke dokter sambil sibuk bertanya pada teman apa yang bisa kulakuan sementara. Tapi tiba-tiba dia hilang. Ya Tuhan, kenapa dalam keadaan begini dia malah pergi. Aku sibuk mencarinya kemana-mana bertanya pada tetangga yang ku lewati. Tapi dia nggak ketemu. Kemana sih anak ini? kesalku dalam hati.

Menjelang magrib ia akhirnya kutemukan. Ini hari sabtu praktek dokter jauh sekali dari rumah. Menghubungi beberapa dokter yang bisa house call yang dua tidak menerima panggilan setelah malam. Satunya lagi nggak bisa dihubungi dan yang terkhir sudah telat untuk kuhubungi karena nomernya baru kudapatkan tak lama sebelum dia makin drop. Lalu seorang teman memberikan resep melalui teman lain yang kebetulan dokter hewan. Aku menebusnya ke apotik dan meraciknya. Ku minumkan padanya. tak lama 5 menit kemudian dia seperti mau muntah tapi lalu kemudian batuk-batuk meregang sepersekian detik dan lemas.

Oscar pergi...seperti tak percaya aku menggoyang-goyangkan tubuhnya berulang. Aku terdiam menatapnya.Dia bahkan pergi tak ada dalam pangkuanku. Lalu aku mulai menyalahkan diri sendiri yang tidak peka dengan kondisinya dari awal. Aku yang salah, aku yang menyepelekan. Tapi apa nggak ada kesempatan untuk memperbaikinya? Oscar...aku menangis sejadi-jadinya setelah sadar tubuhnya mulai kaku. Dia sudah tertidur tenang tanpa rasa sakit lagi sekarang. Cepat tanpa kuduga bahkan ia akan pergi. Tenang dalam mimpinya. Tenang di tempat nya tepat 31 hari setelah ulang tahunnya yang ke-3.

Selalu, aku benci mengucapkan selamat tinggal. Aku lebih senang mengatakan sampai berjumpa disana Oscar. Semoga kelak semua yang telah pergi lebih dulu bisa bertemu kembali pada waktunya. Dan sekarang aku harus melanjutkan hidup dengan mengenangnya tanpa tangisan. Oscar pemberi semangatku selama ini. Banyak hal berat bisa kulalui dengan mudah karena keberadaannya. Kucing kesayanganku dengan suara eongan kecil yang kasih sayangnya akan selalu hidup dalam jiwaku. Raganya memang sudah menyatu dengan tanah. Tapi dia akan tetap hidup dalam hati dan ingatanku sampai nanti.




(Oscar in my memory, 12 Mei 2012 - 13 Juni 2015)





1 komentar: