Selasa, 09 Juni 2015

Cat Cabin (menuntaskan penasaran bersama para meong part 2)


Cafe kucing kedua yang aku kunjungi minggu kemarin lokasinya tidak jauh dari cafe kucing yang pertama. Beralamat di Jalan Kemang Raya Nomor 31 Jakarta Selatan, cafe ini diberi nama Cat Cabin. Cat Cabin diresmikan hanya berselang beberapa hari setelah cafe kucing pertama  diresmikan (baca juga Cuties Cats Cafe, (menuntaskan penasaran bersama para meong part 1). The Cat Cabin juga berlokasi di lantai 3 sebuah ruko baru yang sebagian tokonya masih belum diisi.

Mengusung konsep yang sama, Cat Cabin juga tidak jauh berbeda dengan Cuties Cats Cafe. Ketika sampai dilantai 3 kita akan menemui bentuk
ruangan yang hampir serupa, kursi tunggu, mini bar, papan menu yang berisi daftar harga dan aturan berkunjung serta rak-rak sendal yang memang sudah disusun sedemikian rupa. Juga tak ketinggalan pertanyaan tentang reservasi dan lainnya. Hanya saja di cafe ini kita bisa memesan makanan ataupun minuman dan membayar charge berkunjung setelah selesai. 


Cafe ini buka untuk hari selasa s/d kamis mulai pukul 09.00-21.00. Sedangkan di hari jumat s/d senin dibuka mulai pukul 09.00-22.0. Serupa dengan Cuties Cats Cafe, pengunjung Cat Cabin ini juga dibatasi. Cat Cabin memang memiliki ruangan yang lebih besar dibanding Cuties Cats Cafe. Hanya saja kucing yang dimiliki cafe ini jumlahnya lebih sedikit. Ada 10 ekor yang terdiri dari beberapa kucing ras dan 2 ekor kucing domestik yang rata-rata masih berusia dibawah 1 tahun. Biaya charge yang dikenakan di cafe ini flat setiap harinya. Pengunjung cukup membayar Rp. 50.000 untuk jam pertama dan Rp.35.000 untuk jam berikut. 


 

Ya, luas ruangan di cafe ini bisa dibilang dua kali lebih besar dari cafe kucing yang pertama. Masuk kedalam furnitur yang memang khusus dirancang untuk tempat bermain dan istirahat kucing diletakan di tengah ruangan. Dibagian ujung kiri dan kanan ruangan terdapat masing-masing satu meja dengan empat tempat duduk lesehan yang dibuat dari bahan sejenis rotan.






 

Selain itu juga terdapat dua sofa besar panjang berwarna biru dan hijau lengkap dengan ornamen-ornamen lainnya. Meja, rak buku, ornamen-ornamen dinding seperti lukisan dan photo-photo serta furnitur lainnya pun tertata cantik dan menarik di dalam cafe. Kesemuanya memang di desain untuk menunjukan ruangan cafe ini lebih seperti ruangan di rumah yang memang lebih santai dan nyaman. Hanya memang suasananya lebih sepi dibanding dengan cafe yang pertama saat aku berkunjung kemarin.




Disudut lain terdapat 1 meja yang menyerupai meja makan dengan 6 kursi. Lalu di sebelahnya lagi ada 2 kursi dengan 1 meja yang dibuat lebih pendek seperti kursi-kursi yang biasa ditaruh di teras rumah.






Litter box kucing sengaja ditaruh diruangan yang memang tidak terjangkau pengunjung. Terdapat lorong kecil berukuran persegi dengan tali-tali menjuntai yang dibuat untuk menyamarkan supaya lorong tersebut tidak terbuka langsung.


Diatasnya terdapat sebuah papan tulis bertuliskan aturan-aturan bagi pengunjung cafe juga nama beberapa akun media social yang berisi tentang cafe ini.


Satu diantara 2 kucing domestik yang ada di cafe ini bernama Nona. Kucing betina dengan warna black tabby ini di adopsi dari sebuah klinik dokter hewan di jakarta. Sejarah Nona cukup menyedihkan sebelum diadopsi oleh sang pemilik cafe. Ia kerap kali disiksa bahkan hingga kaki kiri belakangnya cacat jiga diperhatikan saat berjalan. Nona juga sudah steril sehingga pembawaannya lebih tenang dan perawakannya gemuk sekali. Di bagian telinga sebelah kirinya terdapat tanda robek seperti cacat yang sering diartikan sebagai bekas luka karena penyiksaan oleh waitress di sana. Tapi kalau menurutku itu lebih seperti eartag (bagian telinga yang sedikit digunting sebagai tanda untuk kucing yang memang sudah steril). Dan sayangnya lagi mungkin karena masih tersisa trauma akibat penyiksaan yang kerap diterimanya dahulu, Nona sedikit sulit didekati bahkan untuk sekedar dielus apalagi digendong. Ah, apapun itu sekarang ia sudah berada pada pemilik yang lebih bertanggung jawab dan menyayangi serta merawatnya dengan baik. 




Di indonesia sekarang sudah mulai bermunculan cafe-cafe yang serupa di kota-kota besar lain. Semoga lain waktu punya kesempatan dan rezeki serta umur panjang untuk bisa menengok dan berbagi cerita lain tentang mahluk-mahluk menggemaskan yang satu ini. Dan perjalanan yang cukup melelahkan pun aku akhiri disini. Walaupun cuma mengunjungi dua tempat lalu bergegas kembali pulang ke bandung pada sore harinya, tapi karena niat pergi pakai kereta pertama jadinya aku bangun dipagi buta. Sialnya yang nganterin ke stasiun bangunnya telat. Walhasil ketinggalan kereta pertama dan akhirnya naik kereta berikutnya. Banyak waktu yang terbuang percuma sebetulnya. Well, tapi puasnya terbayar dan tuntas lengkap penasaranku tentang kedua cafe ini. 

See you on next trip guys ^^



Tidak ada komentar:

Posting Komentar