Pamanku tiba-tiba menelpon kalau dirumahnya ada induk kucing stray yang baru melahirkan empat ekor anaknya. Paman memintakku membawanya ke rumah agar bisa dirawat dengan baik. Bulan itu aku sudah mengajukan pengunduran diri dari apotek tempatku bekerja. Ku pikir dengan tidak bekerja bagaimana aku menghidupi mereka, sedangkan dirumah aku sudah memiliki 5 ekor kucing dan beberapa kucing stray yang sering mampir ke rumah hanya untuk sekedar meminta makan. Tapi, aku pun tak tega membiarkan mereka dirumah paman sementara tidak ada yg mengurus sama sekali. Akhirnya dengan niat bismillah semoga Alloh
memberiku rezeki lain untuk mereka ku putuskan membawa mereka ke rumah ini. Satu induk kucing hitam cantik dengan tanda putih bulat kecil dileher, mata kuning yang tajam dan ekor yang lebat beserta dua ekor anak kucing betina belang sapi dan satu ekor belang sapi jantan dan si hitam full yg persis seperti induknya. Welcome home a little black family ^^
memberiku rezeki lain untuk mereka ku putuskan membawa mereka ke rumah ini. Satu induk kucing hitam cantik dengan tanda putih bulat kecil dileher, mata kuning yang tajam dan ekor yang lebat beserta dua ekor anak kucing betina belang sapi dan satu ekor belang sapi jantan dan si hitam full yg persis seperti induknya. Welcome home a little black family ^^
A little Black Family Cats
2 bulan berlalu mereka pun tumbuh dengan baik tanpa kekurangan asi dari induknya. Hanya saja ada hal yang kutakutkan dan itupun terjadi. Induk kucing stray punya kebiasaan memindahkan anak-anaknya ke tempat lain dalam satu masa. Inong (nama sang induk) pun melakukan hal yang kutakutkan. Karena tak ketahuan, ia memindahkan satu persatu anak-anaknya ke tempat lain yang tak ku ketahui, hanya menyisakan Ijonk jantan satu-satunya yang persis sang induk karena keburu ketahuan olehku. Semua kittens masih harus menyusui, akhirnya setiap malam kubiarkan ia pergi keluar supaya bisa menyusui anak-anaknya yang sudah ia pindahkan entah kemana. Pada pagi atau siangnya selepas makan aku mengurungnya dikandang agar bisa menyusi ijonk lalu kubiarkan pergi lagi.
Satu minggu
kemudia adik sepupuku mengatakan kalau ia melihat dua ekor kucing belang
sedang disiram anak kecil ditengah jalan. Tanpa pikir aku berlari dan
ya...itu mereka. Sayang si jantan belang
sapi satunya tak bisa kutemukan meski sudah kucari kemana-mana. Beberapa waktu kemudian tanpa sengaja aku mendapati kucing dengan ciri-ciri yang sama
di rumah tetanggaku. Dari cerita yang ku dapati ternyata cucu pemilik rumah itu menemukan kucing lain yang hilang itu dan merawatnya. Aku pun tak
mempermasalahkan karena mereka juga adalah tetangga yang senang
memelihara kucing jadi kubiarkan saja mereka merawatnya dan tak
memintanya kembali. Apalagi ia juga sudah punya banyak teman di rumah itu. Aku pun merasa lega setelah beberapa waktu merasa bersalah dan sedih karena kehilangannya "and yippyyyyyy...aku bisa melihatnya kapan-kapan sekarang", gumamku dalam hati.
Inong (induk)
Itam (betina)
Utam (betina)
Ijonk (jantan)
Keluarga kecil
itu sekarang berkumpul lagi
dirumahku, menyisakan satu ekor lain yang menjadi bagian keluarga lain.
Inong (induk), Itam, Utam dan Ijonk. Bulan berlalu mereka pun melewati
masa menyusui yang semestinya. Berhubung Inong juga sudah dikeja-kejar si thief kucing jantan
stray yang sering minta makan tepatnya mencuri makanan kucingku di
rumah tapi ku biarkan (karena itulah nama thief kunobatkan padanya), dengan uang sisa tabunganku
selama bekerja aku pun melakukan steril/kebiri pada inong.
Inong saat dikejar-kejar thief
Inong pasca steril
Perkumpulan Kucing Domestik Bandung (FB)
kucing_bandung (Twitter)
kucing_bandung (Twitter)
Bulan berlalu, singkat cerita Inong
hilang sejak lebaran tahun ini. Tinggalah hanya mereka bertiga yang tersisa
dari "A little Black Family Cats" ku ini. Dan 3 minggu yang lalu itam tiba-tiba mengalami demam tinggi
dan ambruk lemas saat hendak minum didekat tempat minumnya. Ia pun
enggan menyentuh makanannya, hanya mau sedikit minum setelah aku pisahkan
dikandang karena takut yang lain tertular jika ia ternyata terkena
virus yang bisa menular pada kucing lain. Kandang pun aku taruh dikamar
agar yang lain tak mudah mendekati.
Aku tinggal diwilayah kabupaten di Bandung. Jarak paling dekat ke klinik dokter hewan sekitar 9km dari rumah. Sayang hari minggu mereka tutup. Aku pun harus menunggu besok untuk membawanya ke dokter hewan. Syukurlah ia bertahan dan tertolong. Dokter mengatakan ia terpapar panas berlebihan sehingga suhu tubuhnya meningkat dan tenggorokannya sakit untuk menelan. Dokter menyarankan untuk memberinya makanan yang lembek sampai obatnya habis. Selama seminggu itam pun ku karantina hingga akhirnya ia pulih dan bisa bermain lagi dengan saudaranya.
Sampai kemarin malam belum genap 3 minggu dari sakitnya yang pertama, itam kembali mengalami gejala yang sama. Kali ini lebih parah hanya saja badannya tidak demam. Ya Alloh apalagi yang menimpanya. Aku menguatkan diri dan berfikir positif mungkin ia sakit tenggorokan lagi. Tapi ada yang lain dihatiku berkata, kali ini mungkin sudah waktunya. "nggak, dia masih kecil. Masih senang mengejar kupu-kupu seperti kesukaannya. nggak, itam nggak boleh pergi" gusarku dalam hati.
Esoknya, pagi ini itam sudah terlihat setengah kaku. Kaki tangannya meregang seperti menahan sakit yang sangat. Mata kosongnya terlihat datar saat ku panggil namanya. Aku pun pasrah, Terpikir untuk menginfusnya sementara agar ia tak kekurangan cairan tapi melihatnya saja aku tak tahan menusukan jarum itu ke punggungnya hanya demi menghibur hati kalau dia akan baik-baik saja kalau ke dokter. Hujan lebat turun dari pagi hari. Aku pun tersadar dan hanya bisa pasrah menemani sambil mengusapnya pelan-pelan, dalam isak tangis ku bisikan "itam kalau sakit lepasin aja sayang" dan Alloh pun menjawab kegusaranku sore ini, selepas Ashar setelah hujan reda itam terlelap dalam tidur panjangnya. Tangisku pecah, sambil menciumi kepala yang tubuhnya sudah terkulai tak bernyawa, dalam peluk ku bisikan "terima kasih gadis cantik maaf aku tak merawatmu dengan baik...selamat bertemu Alloh sayang".
Teringat 2 hari sebelumnya sama ketika sakit yang pertama ia mendekati manja dan tidur siang dikasur bersamaku. Aku tidak tau itulah saat terakhirnya bermanja padaku. Tangisku makin menjadi dan aku mulai sakit merindu suara nyaring dan sikap manjanya. Tapi kini Alloh menunjukan jalan hidup mereka masing-masing pada akhirnya di rumah ini.
Aku tinggal diwilayah kabupaten di Bandung. Jarak paling dekat ke klinik dokter hewan sekitar 9km dari rumah. Sayang hari minggu mereka tutup. Aku pun harus menunggu besok untuk membawanya ke dokter hewan. Syukurlah ia bertahan dan tertolong. Dokter mengatakan ia terpapar panas berlebihan sehingga suhu tubuhnya meningkat dan tenggorokannya sakit untuk menelan. Dokter menyarankan untuk memberinya makanan yang lembek sampai obatnya habis. Selama seminggu itam pun ku karantina hingga akhirnya ia pulih dan bisa bermain lagi dengan saudaranya.
Sampai kemarin malam belum genap 3 minggu dari sakitnya yang pertama, itam kembali mengalami gejala yang sama. Kali ini lebih parah hanya saja badannya tidak demam. Ya Alloh apalagi yang menimpanya. Aku menguatkan diri dan berfikir positif mungkin ia sakit tenggorokan lagi. Tapi ada yang lain dihatiku berkata, kali ini mungkin sudah waktunya. "nggak, dia masih kecil. Masih senang mengejar kupu-kupu seperti kesukaannya. nggak, itam nggak boleh pergi" gusarku dalam hati.
Esoknya, pagi ini itam sudah terlihat setengah kaku. Kaki tangannya meregang seperti menahan sakit yang sangat. Mata kosongnya terlihat datar saat ku panggil namanya. Aku pun pasrah, Terpikir untuk menginfusnya sementara agar ia tak kekurangan cairan tapi melihatnya saja aku tak tahan menusukan jarum itu ke punggungnya hanya demi menghibur hati kalau dia akan baik-baik saja kalau ke dokter. Hujan lebat turun dari pagi hari. Aku pun tersadar dan hanya bisa pasrah menemani sambil mengusapnya pelan-pelan, dalam isak tangis ku bisikan "itam kalau sakit lepasin aja sayang" dan Alloh pun menjawab kegusaranku sore ini, selepas Ashar setelah hujan reda itam terlelap dalam tidur panjangnya. Tangisku pecah, sambil menciumi kepala yang tubuhnya sudah terkulai tak bernyawa, dalam peluk ku bisikan "terima kasih gadis cantik maaf aku tak merawatmu dengan baik...selamat bertemu Alloh sayang".
Teringat 2 hari sebelumnya sama ketika sakit yang pertama ia mendekati manja dan tidur siang dikasur bersamaku. Aku tidak tau itulah saat terakhirnya bermanja padaku. Tangisku makin menjadi dan aku mulai sakit merindu suara nyaring dan sikap manjanya. Tapi kini Alloh menunjukan jalan hidup mereka masing-masing pada akhirnya di rumah ini.
Itam terlelap dalam tidur panjangnya :-(
Aku seperti mengulang hari yang sama...
2 tahun lalu selepas hujan malam aku mengantarkan Mihong kucing jantan berwajah belang yg pergi setelah berjuang melawan gagal ginjal akut 3minggu lamanya...
Dan hari ini....
Selepas hujan siang aku mengantarkan kucing betina cantikku yg berwajah belang juga....
Dengan baju yg sama dan suasana langit yg sama...
Pun rasa sedih yg berlipat sama...
Aku selalu benci mengucapkan kata perpisahan....
Aku lebih senang mengatakan "selamat bertemu dengan-Nya Itam...salam rinduku pada-Nya kutiup bersama selember do'a untukmu"
she is perfectly health now...
RIP and see you there...
Feel free at Rainbow Bridge sweet girl....
Aku lebih senang mengatakan "selamat bertemu dengan-Nya Itam...salam rinduku pada-Nya kutiup bersama selember do'a untukmu"
she is perfectly health now...
RIP and see you there...
Feel free at Rainbow Bridge sweet girl....
In Memoriam Itam 22 januari 2014 - 10 November 2014











Tidak ada komentar:
Posting Komentar